13 Agustus 2008

Ekonomi Islam : Berpikirlah untuk Berubah

Posted by habib under: Agustus08 .

Ekonomi Islam : Berpikirlah untuk Berubah

Oleh : Habiburrochman,SE,M.Si,Ak

Sekretaris Departemen Ekonomi Syariah

Dewasa ini perkembangan sistem ekonomi dan bisnis yang berbasis syariah Islam kembali setelah lama ditinggalkan. Dalam kaitan tersebut maka makalah ini mencoba untuk membahas sekelumit pemikiran yang berkaitan dengan perlunya perubahan mindset dari pikiran ekonomi yang selama ini sudah mencekoki kita ratusan tahun. Tujuan utama dari makalah ini adalah agar setiap orang yang mau mempelajari tentang ekonomi Islam bisa lebih jernih melihat ketentuan yang diatur dalam syariah Islam. Seringkali orang yang mendengar apa itu ekonomi Islam? Ekonomi Islam itu tidak ada atau ekonomi Islam itu kapitalisme minus riba dan masih banyak hal yang dikemukakan tentang ekonomi Islam. Untuk itu, makalah ini pertama tama akan membahas terlebih dahulu sistem ekonomi Islam secara singkat, untuk memberikan sedikit gambaran bagaimana pengaturan ekonomi dalam Islam. Disini akan dicoba untuk melihat bagaimana Rasululluh membangun suatu sistem ekonomi dalam masa pemerintahannya. Pembahasan berikutnya adalah bagaimana pikiran kita harus ditetapkan. Dari uraian tersebut akan ditarik beberapa kesimpulan tentang bagaimana seharusnya menyikapi untuk belajar ekonomi Islam tersebut. Beberapa perumpamaan yang dikemukakan seyogianya bermanfaat untuk bisa lebih arif memahami sistem ekonomi Islam dewasa ini. Terjadinya dialog antara orang yang pro dan kontra mengenai eksistensi ekonomi Islam sangat diharapkan. Bagi yang pro dengan eksistensi ekonomi Islam akan lebih bisa menjelaskan bagaimana ekonomi islam itu bekerja, sedangkan bagi yang kontra proses dialog ini akan dapat membuka wawasan dan lebih bisa memahami mengapa dalam ekonomi Islam itu boleh dan tidak boleh.

Pemahaman Ekonomi Islam

Seringkali orang berpikir dari apa yang ia ketahui. Demikian pula dalam belajar ekonomi Islam, orang seringkali membandingkan dan mencari persamaan dengan apa yang ia ketahui. Saat seseorang sudah sangat kenal betul dengan ekonomi sosialis dan kemudian mempelajari Islam maka kemudian ada komentar bahwa ekonomi Islam itu seperti ekonomi sosialis ditambah zakat dan minus riba. Bahkan ada buku yang membahas tentang sosialisme dalam Islam. Demikian pula ketika seseorang telah tahu tentang ekonomi kapitalis dan kemudian belajar Islam maka mungkin ia berpendapat bahwa Islam itu adalah ekonomi kapitalis minus riba. Bahkan ada juga yang berkomenter khususnya terkait dengan dunia perbankan bahwa bank Islam itu adalah bank konvensional ditambah jilbab.

Pendapat itu seringkali muncul dalam suatu diskusi. Bolehlah orang berpendapat seperti itu tetapi yang pasti ekonomi Islam adalah Ekonomi Islam. Jikalau ada persamaan dengan paham ekonomi sosialis dan kapitalis itulah yang disebut kebetulan sama tetapi pada hakekatnya tetap berbeda. Demikian pula kalau dikaitkan dengan kondisi yang terjadi, maka akan ditemui adanya ketidaksempurnaan-ketidaksempurnaan dalam pelaksanaanya.

Sekarang waktunya kita harus masuk pada tataran hakiki mengenai perbedaan paham ekonomi Islam dengan paham ekonomi yang lain. Yang paling utama adalah siapa yang menentukan aturan main dalam pelaksanaan sistem ekonomi itu?. Dalam paham ekonomi kapitalis dengan orang yang dijadikan tonggak sejarahnya adalah Adam Smith.

Adam Smith dikenal luas dengan teori ekonomi ‘”laissez-faire” di Eropa pada abad 18. bukunya yang terkenal untuk teori ini adalah An Inquiry Into the Nature and Causes of the Wealth of Nations (1776) yang disingkat sebagai Wealth of Nations. Smith percaya akan hak untuk mempengaruhi kemajuan ekonomi diri sendiri dengan bebas, tanpa dikendalikan oleh perkumpulan dan/atau negara. Teori ini sampai pada proto-industrialisasi di Eropa, dan mengubah mayoritas kawasan Eropa menjadi daerah perdagangan bebas, membuat kemungkinan akan adanya pengusaha. Dia juga dikenal sebagai “Bapak Ekonomi” dikalangan paham kapitalis. Pemikiran Adam Smith mengenai ekonomi tersebut sebenarnya tidak terlepas dari masalah moral yang harus ada dalam perekonomian sebagaimana dijelaskan pada buku sebelumnya yaitu The Theory of Moral Sentiments (1759). Buku yang pertama ini tidak terlalu banyak dibicarakan orang khususnya jika berbicara moral yang menggerakkan ekonomi.

Pada tahun 1867 atau lebih 100 tahun setelah Adam Smith mempengaruhi dunia dengan bukunya The Wealth of Nation, maka Karl Max melakukan analisis kritis terhadap pemikiran Adam Smith tersebut. Das Kapital (Capital, dalam terjemahan bahasa Inggris, atau Modal) adalah suatu pembahasan yang mendalam tentang ekonomi politik yang ditulis oleh Karl Marx dalam bahasa Jerman. Dalam buku ini Marx mengkritisi kapitalisme dan aplikasi praktisnya dalam ekonomi. Hasil kritisi inilah yang kemudian dikenal sebagai sosialisme. Marx mempergunakan istilah sosialisme dan komunisme dalam arti yang sama, yaitu keadaan masyarakat sesudah penghapusan hak milik pribadi atas alat-alat produksi. Kedua paham tersebut mengedepankan hubungan manusia dengan manusia. Walaupun Adam Smith awalnya memperkenalkan adanya moral dalam ekonomi namun moral itu tidak pernah dibahas dalam literatur ekonomi berikutnya. Sehingga praktis perekonomian yang dimaksud keduanya adalah perekonomian yang hanya berkaitan antara manusia dengan manusia tidak ada hubungannya dengan Tuhan. Nah inilah yang sebenarnya membedakan dengan Ekonomi Islam.

Sekilas Sistem Ekonomi Islam

Sesuai dengan namanya sistem ekonomi Islam adalah suatu sistem ekonomi yang dibangun dengan dasar nilai-nilai Islam. Sistem ekonomi ini secara jelas telah menetapkan nilai-nilai Islam dalam penerapannya. Dengan demikian sistem ini membutuhkan panduan dari nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam yaitu Qur’an dan hadis. Artinya berbeda dengan sistem ekonomi kapitalis maupun sosialis, sistem ekonomi ini tidak bebas nilai. Pada awal Islam, sistem ini dikembangkan dibawah pengarahan langsung oleh Rasullullah. Sistem ini menanamkan pada para penganutnya bahwa ‘kekuasang tertinggi ada pada Allah SWT (QS 3:26, 15:2, 67:1). Manusia hanyalah makhluk yang diciptakan Allah dan diberi amanah untuk menjadi Khalifah Allah dimuka bumi.

Islam mengajarkan pada umatnya untuk tidak memisahkan antara kehidupan dunia dan akhirat. Dunia dimaksudkan sebagai tempat transit sebagaimana seseorang yang ingin bepergian jauh. Dia harus menyiapkan bekal yang banyak untuk sampai pada tujuannya. Sudah digariskan bahwa tujuan akhir dari perjalanan itu adalah alam akhirat dimana gerbang untuk memasukinya adalah kematian. Dengan demikian kegiatan yang ada di dunia ini tidak terpisah dari kegiatan yang akan terjadi di akhirat. Kehidupan di dunia ini merupakan bekal untuk kehidupan di akhirat. Berdasarkan pemahaman ini, maka bekal yang harus disiapkan adalah sesuai dengan kebutuhan di akhirat nanti. Manusia dianjurkan untuk mencapai kemakmuran yang setinggi-tingginya di dunia, akan tetapi kegiatan untuk mencapai tingkat kemakmuran tersebut harus seimbang dengan kegiatan untuk kehidupan di akhirat. Sebagaimana doa yang selalu kita ucapkan pada setiap kesempatan adalah doa sebagaimana tercantum dalam surah al Baqarah ayat 201 yaitu : ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat’.

Pencarian kemakmuran dan nafkah di dunia ini merupakan bekal yang harus diusahakan dengan tetap memperhatikan syariah yang sudah digariskan dalam Qur’an dan Hadis. Dalam pencapaian kemakmuran di dunia, Islam tidak melarang umatnya untuk menjadi kaya namun harus melalui cara-cara yang sesuai dengan ketentuan Islam (syariah). Beberapa ketentuan yang harus diperhatikan misalnya tidak boleh menimbun kekayaan (Q 104:1-3)sekaligus supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya (Q 59:7). Ketentuan lain mengatur tentang haramnya bunga. Larangan terhadap bunga di dalam Qur’an dilakukan secara bertahap . Tahap terakhir alah penegasan bahwa bunga , berapapun besarnya, adalah haram. Hal ini terjadi dengan turunnya ayat 278-279 surah al Baqarah yang disampaikan Rasullullah dalam Khutbah Haji terakhir pada tahun kesembilan Hijriah yang merupakan ayat terakhir yang berkaitan dengan pengharaman bunga. Dalam ayat yang lain ditekankan pula bahwa orang yang mampu harus membayar zakat. Disini terjadi distribusi dari yang kaya ke orang yang fakir dan miskin. Masih banyak ketentuan lain,namun secara ringkas,sistem ekonomi Islam dibangun atas prinsip-prinsip berikut:

1. Kekuasaan tertinggi adalah milik Allah dan Allah adalah pemilik absolut atas semua yang ada.

2. Manusia merupakan pemimpin (khalifah) Allah di bumi tapi bukan pemilik yang sebenarnya.

3. Semua yang dimiliki dan didapatkan oleh manusia adalah karena seizin Allah, oleh karena itu saudara-saudaranya yang kurang beruntung memiliki hak atas sebagian kekayaan yang dimiliki saudara-saudaranya yang lebih beruntung.

4. Kekayaan tidak boleh ditumpuk terus atau ditimbun.

5. Kekayaan harus berputar.

6. Eksploitasi ekonomi dalam segala bentuk harus dihilangkan.

7. Terdapat distribusi yang wajib diatur oleh negara dari orang yang kaya dengan yang miskin yang secara pasti diatur dengan adanya zakat.

8. Menetapkan kewajiban yang sifatnya wajib dan sukarela bagi semua individu termasuk bagi anggota masyarakat miskin.

Sistem Ekonomi Islam sebagaimana ditermaktub dalam Qur’an dan Hadis diperoleh gambaran umum yaitu sistem yang yang tidak ada unsur riba dalam segala aspek kegiatan ekonomi dan mewajibkan kegiatan zakat bagi seluruh pelaku ekonomi sebagai penggerak utama dari kegiatan ekonomi disamping ahlak para pelaku ekonomi haruslah ahlak yang berdasarkan Qur’an dan Hadis.

Pada saat ini banyak pemikir ekonomi Islam seperti Umer Chapra, M.A Manan, Qordhawi dan lain-lain mencoba mendefisikan ekonomi Islam sesuai perkembangan zaman.

Ekonomi Islam dan Sejarah perkembangannya

Bila kita paham aspek sejarah dari perkembangan ekonomi Islam, maka kita akan menyadari bahwa Ekonomi Islam merupakan paham yang telah berkembang sebelum Adam Smith dan Karl Marx menerbitkan bukunya. Rosullah dan sahabat hidup pada abad ke 7 masehi telah mempraktekkan ekonomi Islam. Bahkan di jaman pemerintahan Umar bin Abdul Azis dikisahkan bahwa tidak ada orang yang berhak atau mau menerima zakat. Artinya pada jaman itu kondisi perekonomian sudah sedemikian makmur walaupun tetap mengenal ada yang kaya dan ada yang tidak terlalu kaya.

Akan tetapi setelah masa keemasan Islam hilang maka ekonomi Islam seakan-akan tidak pernah ada. Bergantilah dengan paham kapitalis dan sosialis. Bila kita lihat sejarah semestinya ekonomi Islam bukan hal yang baru. Tetapi dia merupakan sesuatu yang telah lama dipraktekkan oleh Nabi dan para sahabat dan pengikutnya. Terus, siapa yang salah dengan kondisi ini. Jawabannya semua umat Islam bisa jadi salah. Oleh karena itu tidak ada alasan untuk mempelajari kembali paham ekonomi Islam ini. Walaupun kita telah dicekoki dengan sosialisme dan kapitalisme, maka yang dibutuhkan sekarang adalah kemauan untuk belajar dan kemauan untuk berubah. Kemauan belajar dan kemauan untuk berubah akan membawa kita pada kejernihan memahami ekonomi Islam yang berbeda dengan sosialisme dan kapitalisme.

Penutup

Hilangnya ekonomi Islam dalam kajian keilmuan selama ini terkait dengan
kemunduran peradaban yang dicapai umat Islam terdahulu. Sejak Khilafah Abbasiya II hingga saat ini umat Islam mengalami banyak kemunduran. Kemunduran yang paling berat adalah perang pemikiran (algozwu alfikri). Dalam hal ini Barat banyak memperoleh kemenangan. Negara-negara Islam yang dulu menerapkan hukum Islam berubah haluan menjadi negara sekuler. Bahkan Turki yang sebelumnya menjadi pusat Khilafah Islamiyah secara terang-terangan menentang Islam dan mengganti hukum Islam dengan hukum Barat sekuler.

Islam kemudian lebih dikenal hanya sebagai agama ritual, tidak lebih dari itu. Padahal Islam adalah ibadah, politik, ekonomi, hukum dll. Untuk membumikan Islam jalan pertama yang harus ditempuh adalah mengislamkan umat Islam. Sebagaiman disinyalir oleh Muhammad Abduh bahwa kemajuan Islam terhalang oleh umat Islamnya sendiri.

Barangkali umat Islam terlalu silau dengan perkembangan materi yang diperoleh negara-negara barat sehingga enggan untuk menengok ajaran Islam. Padahal peradaban Barat modern banyak mengalami cacat. Selain itu peradaban Barat tumbuh di lingkungan yang memiliki sejarah sosial budaya yang berbeda dengan masyarakat Islam. Jika kita ngotot menggunakan ideologi Barat sebagai solusi atas berbagai problematika yang sedang dihadapi umat Islam saat ini, maka jangan heran kalau kegagalan demi kegagalan akan tumbuh silih berganti.

Harapan untuk menerapkan ekonomi syariah khususnya di Indonesia, Alhamdulillah, sudah ada perkembangan yang baik. Dengan telah diterbitkannya undang-undang tentang bank syariah serta undang-undang sukuk, paling tidak bisa memberikan gambaran perkembangan yang baik itu. Namun yang perlu diingat bahwa Bisnis syariah hanyalah sub sistem dalam sebuah sistem ekonomi yang lebih besar, yang dewasa ini belum sesuai dengan syariah. Oleh karena itu, betapapun kita ingin mewujudkan bisnis syariah yang ideal, harapan tersebut tentu tidak mudah dilaksanakan bilamana system ekonomi yang lebih luas dan system-sistem lainnya belum sejalan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam. Keberhasilan bisnis syariah di masa depan juga tergantung kepada kemampuan bisnis syariah menyajikan produk-produk dan jasa-jasa yang sesuai dengan syariah namun menarik, kompetitif termasuk sumber daya insani yang ada dibelakangnya. Oleh karena itu, dalam rangka pengembangan bisnis syariah ke depan diperlukan kerja sama antara dunia pendidikan,ulama, praktisi, pemerintah dan masyarakat secara keseluruhan.

Mudah-mudahan jika para pihak tersebut dapat bekerja sama dan terpadu, proses ini akan lebih cepat mencapai hasil. Kita harus terus berusaha dan berharap semoga Allah SWT dapat mempermudah upaya kita untuk melaksanakannya . Hendaknya kita selalu melakukan introspeksi diri, tidak cepat merasa puas dengan perkembangan yang sudah ada. Kita lihat kekurangan kita, selanjutnya kita pertanyakan mengapa demikian? Lalu kita cari solusinya. Dengan demikian diharapkan kejayaan umat Islam masa lampau akan terulang kembali. Tidak ada yang mustahil asalkan kita mempunyai kemauan. Sebagai renungan bersama, penulis sebutkan firman Allah, ”…Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…(Q.S Ar Ra’d:11).

Amin

6 Comments so far...

Elly ana Says:

13 Agustus 2008 at 9:07 am.

Cukup bagus untuk menggugah semangat kaum muslim.
Teruslah menulis demi membangun semangat kembali kepada Islam sebagai Rahmatan lil Alamin.
Ditunggu tulisan berikutnya

Tom Humes Says:

13 Agustus 2008 at 9:11 am.

Nice Site layout for your blog. I am looking forward to reading more from you.

Tom Humes

elvan Says:

27 Nopember 2008 at 7:27 am.

asslm… wah sukron benget atas artikelnya …

seblmnya saya mash mengempu pendidikan di jrusan ekonomi islam dan saya masih sngat kurang wawasan tentan ekonomi sandiri.. kiranya bapk dapat membimbing saya bersama2 kita berjuang untuk ekonomi islam …..

M.Ei Azzahra Says:

7 Desember 2008 at 3:30 pm.

Terus menulis. Semoga menambah semangat para pelaku ekonomi islam.

habib Says:

25 Maret 2009 at 8:09 am.

terima kasih atas dukungannya. mudah-mudahan di sela-sela kesibukan Allah tetap memberikan kekuatan dan semangat untuk terus menulis. mohon doa restunya

iam Says:

5 April 2009 at 5:07 pm.

Perbankan Syariah ,,,masih tdk syariah pak,,Contohx perlakuan ke kryawanx msih banyak yg tdk manusiawi,,,,,

Leave a Reply

Tulisan Terakhir

Arsip

 

Agustus 2008
S S R K J S M
« Sep   Okt »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Komentar Terakhir